Bumbu Penyedap dalam Duel Persebaya vs Persija

Bumbu Penyedap dalam Duel Persebaya vs Persija

Sabtu, 24 Agustus 2019 akan tersaji duel sarat gengsi antara Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta. Duel Persebaya vs Persija berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo pada pukul 18:30 WIB.

Bagi beberapa orang, titel El Clasico akan disematkan untuk pertandingan Persija vs Persib. Padahal, rivalitas keduanya baru berlangsung belasan tahun yang lalu. Atau titel “duel panas” disematkan untuk duel Persebaya vs Arema. Padahal, duel ini jauh dari kata persaingan.

Dilansir dari https://www.bolanusantara.com/, Persebaya lahir 1927 dan Arema FC lahir puluhan tahun setelahnya. Embrio kedua klub juga bertolak belakang. Bajul Ijo tak sekalipun pernah bermain di Galatama dan Arema FC malah lahir dari Galatama. Kalau toh sekarang kedua kesebelasan di ujung Pulau Jawa ini saling “berseteru”, itu demi mengambil tahta penguasa Jawa Timur.

Titel El Clasico seharusnya lebih layak disematkan pada duel Persebaya vs Persija. Jarak kelahiran kedua tim ini hanya berbeda setahun. Bajul Ijo lahir 1927 dan Persija Jakarta setahun setelahnya, 1928.

Keduanya juga menjadi klub yang turut terlibat dalam pendirian PSSI kala nama mereka belum berubah. Soal jumlah gelar, mereka juga saling bersaing. Persija Jakarta kini memiliki 10 gelar resmi dan Persebaya tertinggal dengan 7 gelar. Persaingan dan rivalitas mereka murni karena sepak bola, bukan karena gengsi satu kota atau alasan-alasan yang absurd.

Persaingan Jakarta dan Surabaya

Persaingan dua kota ini tak hanya berlangsung di sektor sepak bola. Dalam lini yang lain, kedua kota elite ini tengah menunjukkan kekuatannya.

Baru-baru ini muncul “insiden” yang melibatkan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dengan salah satu pejabat teras Pemerintah Daerah Jakarta. Penyebabnya sepele, karena persoalan sampah.

Penyebab yang sepele, nyatanya berlangsung lama dan cukup panas. Warga kedua belah pihak tak terima dengan adanya kalimat yang keluar dari masing-masing kubu.

Antara Lalapan dan Pecel Ayam

Sebagai warga Jawa Timur dengan sedikit darah Surabaya yang mengalir dan harus merantau di Jakarta, ada sedikit perasaan aneh. Perbedaan budaya sangat terlihat dan terasa.

Salah satu budaya paling berbeda adalah soal makanan. Di Jawa Timur, kami menyebut pecel ayam dengan sebutan lalapan. Kami enggan atau tak mengenal sebutan Pecel Ayam. Dalam kamus Jawa Timur kami, tak ada kata Pecel Ayam. Pecel ya pecel.

Sesaat pertama kali merantau ke Jakarta, saya membayangkan Pecel Ayam adalah pecel biasa ala Jawa Timur dengan tambahan Ayam sebagai lauk. Nyatanya, itu tak terjadi.

Dalam bayangan orang Jakarta atau mungkin Jabodetabek, Pecel Ayam itu ayam goreng biasa dengan sambal dari cabai, bukan sambal kacang khas pecel ala Jawa Timuran.

Bagi kami orang Jawa Timur, Pecel itu ya sayur-sayuran yang ditambah dengan bumbu kacang. Itu sudah.

Jakarta dan Surabaya Saling Melengkapi

Rivalitas dalam duel Persebaya vs Persija ternyata berhenti di sepak bola. Karena ternyata dalam kehidupan sosial, dua kota besar ini saling melengkapi.

Warga Jakarta membutuhkan Surabaya sebagai tempat untuk menimba ilmu. Saya menduga, jumlah Mahasiswa asal Jakarta di Surabaya jauh lebih banyak dibanding Mahasiswa asal Surabaya di Jakarta.

Sebaliknya, di Jakarta lebih banyak perantau dari Surabaya seperti saya. Dibandingkan perantau dari Jakarta yang berada di Surabaya.

Pertandingan Persebaya vs Persija adalah rivalitas yang normal. Kedua kesebelasan tak memiliki riwayat buruk selain rivalitas di atas lapangan. Kedua kelompok suporter pun sempat berada dalam kondisi yang damai. Bonek disambut dengan damai di Jakarta kala mereka memperjuangkan nasib Persebaya. Kalau toh kelompok suporter kini tengah bermusuhan, anggaplah itu bumbu penyedap biasa karena inti dari masakan ini ada dalam Persebaya vs Persija.